});

Portal informasi Seni, Budaya, Ragam dan semua tentang Bengkulu.

Nujuh Likur, Tradisi Ramadan Turun Temurun Bengkulu Selatan


Tanjungbungo - Banyak tradisi yang dilakukan umat islam dalam memeriahkan Ramadan. Hal tersebut untuk menunjukan rasa gembira dalam hati saat bertemu bulan ampunan yang penuh berkah. 

Saat kumpul bersama keluarga yang mudik, kegiatan ini juga menjadi satu keceriaan serta keunikan bagi mereka dan dapat dijadikan cerita saat pulang ke kota atau arus balik nanti. Di Bengkulu Selatan terdapat satu tradisi yang dinamai Nujuh Likur, Penasaran ? Simak terus artikel berikut ini..

Nujuh Likur adalah tradisi dimalam 27 bulan Ramadan, membakar Runjuk( terbuat dari susunan batok kelapa yang dilobangi dengan satu tiang utama berada ditengah-tengah). Cara membakar runjuk tersebut dengan membakar terlebih dahulu bagian atas dan api akan berangsur-angsur membakar bagian. 

Dahulu, bahan bakar yang digunakan untuk menyalakan api menggunakan buah sawit yang sudah tua atau biasa disebut berondol. Namun dalam perkembanganya sudah menggunakan bahan bakar minyak, api yang dihasilkan seperti obor besar akan lebih menarik apabila rujuk yang dibakar berjumlah banyak.


Persiapan malam Nujuh Likur ini merupakan keseruan bagi anak-anak karena diharuskan mengumpulkan sayak sebutan untuk batok kelapa oleh masyarakat Bengkulu Selatan. Tak jarang mencari sayak ini sampai kerumah tetangga dikarenakan untuk satu keluarga terkadang belum cukup.

Asyiknya juga dibarengi dengan main kembang api dan petasan akan menambah keseruan yang haqiqi. Nyala api biasanya akan sampai subuh esok harinya tergantung panjang rujuk yang dibuat. Terkadang didekat rujuk anak-anak juga memainkan meriam bambu sambil bercanda tawa. Tak terbayang betapa serunya apabila kita berada diposisi ini akan menjadi ingatan semasa kecil jika sudah dewasa nanti.

Tapi yang harus kita perhatikan adalah cara membakar Nujuh Likur ini harus didampingi orang dewasa agar resiko atau hal yang tidak diingankan tidak terjadi. Memang terbilang cukup berbahaya karena menggunakan api dalam tradisinya jika dilakukan dengan benar dan diawasi maka akan seru pastinya.

Itulah ragam tradisi dari tanah air kita, khusunya dari Bengkulu Selatan. Jika dijawa banya kegiatan seperti pawai obor dan lain sebagainya bahkan ada yang ngeliwet bersama untuk memeriahkan bulan Ramadan dan puncaknya adalah takbiran yang sangat terkenal dinegara yang kita cintai ini. 

Hal ini hendaknya kita pertahankan dan jangan sampai hilang dengan perkembangan zaman yang sudah modern agar generasi selanjutnya bias merasakan tradisi ini. Semoga tradisi Nujuh Likur ini tetap eksis sampai kapanpun, Insya allah..

Related : Nujuh Likur, Tradisi Ramadan Turun Temurun Bengkulu Selatan

0 Komentar untuk "Nujuh Likur, Tradisi Ramadan Turun Temurun Bengkulu Selatan"

Silahkan berkomentar secara Bijak dan sesuai dengan topik pembahasan...